Connect with us

17. DITRESKRIMSUS

Subdit Siber Polda Metro Jaya Ungkap Pembobolan Rekening Nasabah BTPN Senilai Rp2 miliar

Published

on

Kamis, 14 Oktober 2021 20:15 WIB

TribrataNews PMJ – Subdit Penyidik ​​​​Siber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya mengungkap kasus pembobolan rekening 14 nasabah Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dengan total nilai kerugian mencapai sekitar Rp2 miliar.

“Inius Polisi Jakarta kasus akses ilegal, korban 14 nasabah bank yang merasa tidak pernah melakukan transaksi tapi rekeningnya pindah semua rekening tersangka ini,” kat Kabid Humas Polda Metro Jaya Yusri Yun, Rabu (13/10/2021) kemarin .

Dalam kasus-kasus polisi menangkap dua tersangka yakni D dan O. Selain itu polisi juga mengejar dua tersangka lainnya yang masih buron.

Meski tidak menjelaskan secara rinci, Kombes Yusri mengatakan tersangka D dan O ditangkap di wilayah Sumatera pada pekan lalu. Sehari-harinya para petani kedua tersangka berprofesi sebagai dan kuli bangunan.

“Modus pengambilalihan rekening nasabah dengan cara melakukan panggilan kepada korban mengaku staf BTPN. Korban yang terpengaruh kemudian mengikuti petunjuk pelaku dengan mengirimkan catatan login dengan mengisi data nasabah dan OTP, pelaku setelah akun nasabah, pelaku mengambil alih rekening nasabah kemudian dikuras,” tambahan.

Dalam pertemuan kedua polisi berbagai barang bukti seperti ponsel, kartu ATM, dan senjata api.

Atas kedua perbuatan tersangka kini harus mendekam balik jeruji besi Rumah Tahanan Polda Metro Jaya dan ancaman hukuman 12 tahun penjara.

Keduanya dijerat dengan Pasal 30 jo Pasal 46 jo Pasal 32 Jo Pasal 48 Jo Pasal 35 Jo Pasal 52 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kemudian, Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api.

“Kami jerat juga UU Darurat Nomor 15 tahun 1951 ancaman 12 tahun penjara dan UU ITE dengan ancaman 12 tahun penjara,” ujar Kombes Yusri

Polisi saat ini masih tetap apakah masih ada korban lain dari komplotan ini dan mengimbau kepada nasabah bank yang pernah mengalami kejadian serupa untuk melapor ke pihak berwajib.

Pada kesempatan yang sama Perwakilan Direksi BTPN Argo Wibowo menyampaikan apresiasi kepada Polda Metro Jaya atas kasus-kasus yang sangat meresahkan masyarakat tersebut.

Argo juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan pihak yang mengaku-ngaku sebagai staf BTPN dan meminta data pribadi nasabah.

“BTPN atau produk Jenius tidak pernah menggunakan data pribadi apalagi OTP itu adalah data pribadi nasabah. Jadi sebaiknya terkait informasi tersebut lebih baik disimpan sendiri dan tidak disebarluaskan. Risiko di-” pengambilalihan  oleh pihak yang tidak bertanggung jawab besar sekali,” ujar Argo .

Argo juga mengatakan akan meningkatkan sistem keamanan dan berharap kasus ini bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat.

17. DITRESKRIMSUS

Subdit Tipid Siber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya Ungkap Kasus Penggelapan Modus Jual Beli Akun Ojol

Published

on

By

Rabu, 24 November 2021 13:38 WIB

TribrataNews PMJ – Petugas Subdit Tipid Siber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menangkap 2 kurir ojek online (ojol) yang membawa kabur MacBook Rp 67 juta milik ‘Untung Store’. Dari kasus ini polisi mengungkap adanya praktik jual beli akun driver ojek online.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol E Zulpan menjelaskan pihaknya menangkap dua orang pelaku terkait penggelapan MacBook Rp 67 juta tersebut. Keduanya adalah tersangka RF (25) dan HS (39).

“Tersangka RF dan HS, mereka ini adalah teman saling mengenal dan juga sudah beberapa kali melakukan kejahatan,” ujar Kombes Zulpan dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (24/11/2021).

Adapun, pelaku RF adalah kurir ojol yang menggelapkan MacBook Pro senilai Rp 67 juta milik korban. Sedangkan tersangka HS adalah yang membuat akun palsu ojol yang kemudian digunakan tersangka RF untuk melakukan kejahatan.

“Kerja sama dengan modus tersangka HS minta bantuan ke tersangka RF untuk dicarikan akun driver ojol yang dijual pemiliknya. Setelah tersangka RF beli akun driver ojol, tersangka RF mendapatkan sim card yang terdaftar pada akun driver ojol tersebut,” jelasnya.

Namun, jika tidak mendapatkan nomor ponsel bekas pemilik asli, pelaku menggunakan nomor ponselnya sendiri. Nomor ponsel itu digunakan untuk menerima orderan.

“Setelah mendapatkan orderan, tersangka tidak mengirimkan barang seperti HP, laptop dll kepada yang seharusnya, tetapi barang tersebut digelapkan,” tuturnya.

Kasus ini berawal ketika Untung Putro melapor ke Polda Metro Jaya terkait penggelapan MacBook senilai Rp 67 juta tersebut. Penggelapan MacBook itu dilakukan oleh oknum kurir ojol.

“Ternyata ada 15 orang yang pernah jadi korban orang tersebut juga. Jadi orang ini residivislah, sindikatlah. Dia modusnya jual-beli akun ojek online,” kata Untung saat dihubungi, Minggu (21/11).

Dia mengatakan pelaku kerap menggonta-ganti akunnya saat melakukan aksi tersebut. Barang pesanan ke-15 korban yang dibawa kabur memiliki nilai jual yang bervariasi.

“Yang terlapor sampai sekarang sudah 15 kali dengan orang yang sama dan nilainya fantastis pasti di atas Rp 10 juta. Ada yang Rp 23 juta, ada yang Rp 28 juta, Rp 40 juta. Saya mungkin salah satu yang paling gede ya Rp 67 juta di satu transaksi,” jelasnya.

Kemudian, Untung menyebut pelaku menggunakan KTP palsu untuk mendaftarkan diri sebagai kurir ojek online.

“Jadi akun palsu, KTP palsu. Kalau nama di KTP Hendri Usman, cuma saya yakin itu dia jual akun juga jadi KTP palsu. Karena kami dapet foto KTP, kami kirim tim ke alamat di KTP juga nggak ada orang tersebut,” ungkap Untung.

Continue Reading

17. DITRESKRIMSUS

Polda Metro Jaya Tangkap 48 WN China dan Vietnam Terkait Tindak Kejahatan Pencurian Data Modus Phone Sex

Published

on

By

Senin, 15 November 2021 08:47 WIB

TribrataNews PMJ – Polda Metro Jaya menangkap 48 warga negara asing (WNA) berkebangsaan China dan Vietnam terkait kasus dugaan pemerasan dan pencurian data lintas negara berkedok aplikasi kencan dengan modus Phone Sex.

“Ini kejahatan lintas negara yang para tersangkanya adalah warga negara asing keturunan China dan Vietnam. Ada 48 tersangka disini kita amankan dan korbannya rata-rata adalah warga Taiwan dan China sendiri,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Brigjen Pol Yusri Yunus di Jakarta, Sabtu.

Brigjen Yusri mengungkapkan, modus para pelaku ini adalah mencari korbannya dengan memanfaatkan aplikasi kencan.

Di dalam aplikasi tersebut pelaku mencari secara acak (random) data korban-korban warga negara China. Kemudian dicocokkan dengan satu aplikasi lagi dan berganti personal dengan WeChat atau Line.

“Di sana para tersangka bisa mengirimkan link ‘phishing‘ website ke korban,” ujar Brigjen Yusri.

Para pelaku ini kemudian meminta korbannya untuk mendaftar melalui link situs “phishing” yang ternyata digunakan untuk mencuri data pribadi dari ponsel korbannya. Salah satu data yang dicuri adalah daftar kontak milik korbannya.

Dari 48 tersangka yang ditangkap Polda Metro Jaya, empat diantaranya adalah perempuan yang berperan memancing korbannya untuk melakukan panggilan video (video call) mesum yang direkam diam-diam oleh para tersangka dan digunakan untuk memeras korbannya.

“Pelaku wanita ini memancing korban untuk membuka baju, kemudian korban terpancing. Inilah dasar mereka memeras si korban,” kata Brigjen Yusri.

Brigjen Yusri mengatakan, pemeriksaan terhadap 48 tersangka tersebut masih berjalan lantaran para pelaku tersebut baru saja ditangkap pada Jumat malam (12/11) sekitar pukul 20.00 WIB.

Para tersangka ditahan di Rumah Detensi Imigrasi sambil menunggu proses hukum dan koordinasi dengan kepolisian China untuk proses selanjutnya.

Adapun pasal yang dilanggar para tersangka di Indonesia adalah UU ITE Pasal 30 Juncto Pasal 48 dan atau Pasal 28 ayat 1 Juncto Pasal 45 ayat 1 dan atau Pasal 35 Juncto Pasal 51 ayat 1 UU Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Continue Reading

17. DITRESKRIMSUS

Kembali, Ditreskrimsus Polda Metro Jaya Gerebek Kantor Pinjol Ilegal di Cengkareng dan Tangkap 4 Orang

Published

on

By

Selasa, 26 Oktober 2021 07:37 WIB

TribrataNews PMJ – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya melakukan penggerebekan terhadap kantor yang beroperasi sebagai penyedia jasa pinjaman online (pinjol) ilegal di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Sebanyak empat orang ditangkap polisi.

Adapun penggerebekan kantor tersebut dilakukan di sebuah kos-kosan Jalan Tawangmangu RT 12, RW3, Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat, Senin malam (25/10/2021). Di tempat itu, polisi menduga ada empat aplikasi pinjol ilegal.

“Jadi di kos-kosan ini kita berhasil melakukan penindakan ada dua lokasi atau dua kamar di mana dalam dua kamar ini ada 4 aplikasi pinjaman online ilegal,” kata Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol Auliansyah Lubis kepada wartawan, Senin (25/10/2021) malam.

Penggerebekan ini merupakan tindak lanjut dari laporan warga beberapa hari silam. Kombes Auliansyah mengatakan, sebanyak empat orang diamankan dalam penggerebekan itu. Di mana, keempat orang ini berperan sebagai collector (penagih) di empat aplikasi pinjol tersebut.

Kombes Auliansyah menambahkan, keempat orang ini kerap meneror para krediturnya yang wanprestasi mulai dari santet hingga penyebaran foto-foto tak senonoh. Mereka, lanjutnya, sudah beroperasi sejak 10 bulan lalu.

“Tadi sama-sama sudah kita liat dia melakukan, ‘kalau kamu tidak bayar kamu akan saya santet’ ataupun ‘apabila kalau kamu tidak bayar saya akan kirimkan foto-foto senonoh kamu ke setiap kontak yang ada di HP Anda’,” tuturnya.

Kini, pihaknya tengah melakukan penyelidikan dan pengembangan terhadap keempat orang pelaku ini.

Seperti diketahui, polisi memberikan perhatian terhadap maraknya penyedia jasa pinjol ilegal yang ada di Indonesia. Bahkan, beberapa pengejaran telah diungkap di beberapa lokasi dari lima wilayah Kota di Jakarta sampai Tangerang.

Penggerebekan ini menambah catatan Polda Metro Jaya yang tercatat telah menggerebek lima lokasi pinjol ilegal dengan sebanyak 13 tersangka dan 105 aplikasi ditemukan di lima lokasi tersebut.

Pinjol ilegal meneror korban melalui pesan dan foto berita bohong. Ancaman bahkan memperlihatkan foto konsumen dan dijadikan satu gambar asusila untuk tujuan menekan peminjam dana dengan ancaman-ancaman yang ada. Tidak hanya itu, pinjol ilegal juga menyebarkan foto asusila tersebut kepada keluarga nasabah, rekan kerja bahkan atasan kantor.

Continue Reading

BERITA POPULER

Breaking News