Connect with us

2. POLRES METRO JAKARTA UTARA

Polres Metro Jakarta Utara Laksanakan Patroli Operasi Yustisi Gabungan

Published

on

TribrataNewsPMJ-Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro Yang  tertuang dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 796 Tahun 2021. akan berjalan selama dua pekan terhitung 22 Juni sampai dengan 5 Juli 2021.Kamis,(24/06/21).

 

Polres Metro Jakarta Utara melaksanakan Patroli Operasi Yustisi gabungan yang di pimpin oleh Kompol Sunardi Sh  Wakasat Lantas Polres Metro Jakarta Utara Dan Di Dampingi Oleh Perwira Pendamping Ipda Hendry Hartanto,Spd dan diikuti 35 personil gabungan pada hari Rabu 23 Juni 2021.

 

Pelaksanaan patrol dimulai dari peninjauan titik penyekatan diwilayah kelapa gading dengan di laksanakannya pembagian  masker dan himbauan kerumunan supaya membubarkan diri di depan MOL Kelapa gading  selanjutnya Personil bergabung dengan Satpol PP dan Dishub melaksanakan penyekatan dan pemeriksaan kendaraan  di perempatan TL  Perintis Kemerdekaan.

 

Hasil yang ingin dicapai dari pelaksanaan patrol ini untuk menciptakan kesadaran masyarakat dalam  pentingnya prokes guna pencegahan dan pengendalian penyebaran Covid-19 serta mencegah terjadinya niat dari pelaku tindak pidana

 

Dalam pelaksanaannya patroli opersi yustisi ini berjalan lancar dan tidak ditemukan pelanggaran untuk wilayah polres metro Jakarta utara.

2. POLRES METRO JAKARTA UTARA

Polres Metro Jakarta Utara Lanjutkan Rekomendasi Komnas PA dan LPAI ke PN Jakut Kasus Pemerkosaan Anak di Bawah Umur

Published

on

By

Rabu, 21 September 2022 07:10 WIB

TBNews PMJ – Penyidik Polres Metro Jakarta Utara melanjutkan rekomendasi Komnas Perlindungan Anak (PA) dan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) terkait
Anak Berhadapan Hukum (ABH) yang terlibat kasus pemerkosaan anak di bawah umur ke Pengadilan Negeri setempat.

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Wibowo mengatakan,  satu dari empat ABH yang berusia di bawah 12 tahun mendapat rekomendasi dari Komnas PA, LPAI dan tim Kantor Pengacara Hotman Paris untuk menjalani proses hukum di luar persidangan (diversi) di Markas Polres Metro Jakarta Utara, Selasa (20/9/2022).

Tapi sesuai kesepakatan, polisi akan melanjutkan proses hukum tiga ABH lainnya yang sudah berusia di atas 12 tahun, karena tidak memenuhi batas usia yang ditetapkan dalam pasal 21 Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) serta tidak memperoleh kesepakatan untuk berdamai dari pihak korban.

“Tadi kami sudah sepakat dengan tim bahwa anak yang di bawah 12 tahun ini akan kami berikan pelatihan pendidikan dasar pembinaan selama enam bulan dan nanti hasil kesepakatan akan kami ajukan ke pengadilan untuk mendapatkan penetapan,” kata Kombes Wibowo.

Menurut Kombes Wibowo, pada pasal 21 UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menyebutkan bahwa anak yang tidak bisa dipidana adalah anak yang berusia di bawah 12 tahun.

Sementara tiga ABH lain yang terlibat dalam kasus pemerkosaan ada yang sudah berusia di atas 12 tahun. “Maka proses hukumnya bisa dilanjutkan ke tahapan selanjutnya, jika para pihak yakni dari korban dan pelaku tidak bersepakat untuk berdamai,” katanya.

Namun saat memeriksa keempat ABH, polisi tidak melakukan penahanan sebagaimana amanat Pasal 32 Undang-Undang tentang SPPA terkait usia keempatnya belum genap 14 tahun.

Hotman Paris menyebutkan, keluarga korban, yakni kakaknya tidak bersedia bersepakat dan tetap ingin melanjutkan proses hukum ketiga ABH tersebut.

“Tidak ada kesepakatan, yang tiga orang itu hukum harus jalan terus,” kata Hotman di Mapolrestro Jakarta Utara, Selasa.

Wibowo mengatakan, ketiga ini bisa lanjut proses hukumnya. “Hukumannya nanti terserah putusan hakim karena ancaman pidananya ini di atas tujuh tahun dan dianya umurnya di atas 12 tahun,” katanya.

Polres Metro Jakarta Utara telah menangkap keempat orang ABH yang diduga melakukan kekerasan seksual kepada remaja perempuan berusia 13 tahun di Hutan Kota Rawa Malang, Jakarta Utara, pada 6 September.

Polisi juga sudah memeriksa keterangan dari keempat ABH yang masih berumur di rentang usia 12 hingga 14 tahun dan mengungkap motif pemerkosaan, yaitu karena korban menolak penyataan cinta salah seorang di antara empat ABH.

Setelah ditangkap, keempat ABH tidak dipulangkan namun dititipkan ke Shelter Anak Berhadapan Hukum di Cipayung, Jakarta Timur, sembari proses hukum berjalan, karena tidak bisa dilakukan penahanan sesuai Pasal 32 UU SPPA.

Continue Reading

2. POLRES METRO JAKARTA UTARA

Terduga Pelaku Kekerasan Seksual Anak di Hutan Kota Rawa Malang, Jakarta Utara Ditangani Sesuai UU SPPA

Published

on

By

Senin, 19 September 2022 08:25 WIB

TBNews PMJ – Penyidik Polda Metro Jaya menangkap empat orang terduga pelaku kekerasan seksual terhadap remaja putri berusia 13 tahun di Hutan Kota Jakarta Utara.

“Pelaku sudah diproses,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol DR Mohammad Fadil Imran kepada media di Jakarta, Sabtu.

Irjen Fadil mengungkapkan para pelaku juga berstatus anak di bawah umur, sehingga kepada mereka  tidak dilakukan penahanan, namun dititipkan di Selter Khusus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) di Cipayung, Jakarta Timur.

“Pelakunya anak. Saat ini diamankan di Selter ABH Cipayung,” ujar Irjen Fadil.

Menurut informasi yang dihimpun, peristiwa kekerasan seksual tersebut terjadi pada Sabtu (3/9/2022) di Hutan Kota Rawa Malang, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara.

Kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Utara pada Selasa (6/9/2022) dan keempat pelaku langsung ditangkap hari itu juga.

Saat dilakukan pendataan oleh petugas diketahui keempat pelaku tersebut baru berusia 12-14 tahun.

Kemudian sesuai aturan perundang-undangan, anak berhadapan dengan hukum tidak bisa dilakukan penahanan, sehingga keempatnya saat ini dititipkan di Selter Khusus ABH Cipayung untuk proses lebih lanjut.

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol  Wibowo menjelaskan proses hukum kasus kekerasan seksual di Hutan Kota Rawa Malang, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara ditangani sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) sehingga tidak bisa menahan pelaku karena belum genap berusia 14 tahun.

“Jadi, perlu saya tegaskan di sini bahwa kami tetap memproses lanjut kasus ini. Namun, terkait penahanan terhadap anak ini diatur dalam Pasal 32 UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah minimal 14 tahun,” kata Kombes Wibowo kepada wartawan di Jakarta Utara, Sabtu.

Kombes Wibowo menjelaskan, proses hukum dugaan kasus kekerasan seksual di Hutan Kota Rawa Malang, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara pada 1 September lalu sekira pukul 17.30 WIB, masih berjalan.

Petugas telah menangkap keempat anak karena diduga melakukan kekerasan seksual kepada remaja perempuan berusia 13 tahun di Hutan Kota Rawa Malang, Jakarta Utara, begitu mendapat laporan peristiwa ini pada 6 September.

Polisi juga sudah memeriksa keterangan dari mereka yang masih berumur di rentang usia 12 hingga 14 tahun dan mengungkap motif yaitu karena korban menolak penyataan cinta salah seorang dari mereka.

“Memang begitu, korban ini sedang pulang sekolah ketemu empat orang ini karena salah satu dari mereka pernah ditolak cintanya oleh si korban,” kata Kombes Wibowo.

Setelah ditangkap, kata Kombes Wibowo, mereka tidak dipulangkan, namun dititipkan ke Selter Anak Berhadapan Hukum di Cipayung, Jakarta Timur karena tidak bisa dilakukan penahanan sesuai Pasal 32 UU SPPA.

Lebih lanjut, Kombes Wibowo mengatakan mungkin kesalahpahaman muncul ketika polisi menerapkan untuk satu orang dari mereka karena dikenakan pasal khusus, yakni pasal 21 UU SPPA dan dia memang masih berusia 12 tahun.

Wibowo juga menyebutkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Badan Pemasyarakatan, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak serta pengacara tersangka.

“Koordinasi untuk menentukan apakah anak itu diserahkan kembali kepada orang tua atau mengikuti pendidikan pembinaan selama enam bulan,” katanya.

Pihaknya pada Rabu (14/9) telah mengagendakan hal itu tetapi, kegiatan itu batal karena tidak dihadiri keluarga korban.

“Proses hukum terhadap sistem peradilan anak, memang mekanismenya sedemikian panjang. Jadi, ini layak diketahui publik,” kata Kombes Wibowo.

Continue Reading

2. POLRES METRO JAKARTA UTARA

Kasus Ekshibisionis Terhadap PRT di Tanjung Priok Berakhir Damai

Published

on

By

Jumat, 16 September 2022 13:55 WIB

TBNews PMJ – Kasus pelecehan seksual atau ekshibisionis terhadap pembantu rumah tangga (PRT) yang terjadi di perumahan mewah Sunter Indah, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, berakhir damai. Majikan sekaligus pendamping korban DS (20 tahun), Yurike Budiman, mengatakan kasus ini telah diselesaikan secara kekeluargaan.

 

“Jadi setelah kemarin dilaporkan, keluarga pelaku ini, bapak sama abangnya datang untuk menemui korban. Bapak dan abangnya meminta maaf dan mengupayakan jalur damai,” kata Yurike, saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (16/9/2022).

 

Yurike mengatakan, dalam mediasi tersebut terjalin keputusan bersama antara korban dan keluarga pelaku. Orang tua pelaku HH (29) lalu membeberkan latar belakang anaknya yang dulu juga sempat menjadi korban perundungan.

 

Seiring berjalannya waktu, HH menjadi pribadi yang tertutup, bahkan sampai ke orang terdekatnya.

 

“Bapaknya ini bilang memang si pelaku dulu pernah jadi korban bullying banyak orang. Makanya itu, mungkin berimbas ke perilakunya sekarang,” kata Yurike.

 

Yurike menambahkan, korban DS yang sebelumnya sempat tertekan kini juga sudah memaafkan pelaku. Para penghuni rumah tempat DS bekerja masih melakukan pendampingan kepada korban.

 

Korban juga sudah mencabut laporan. Pencabutan laporan atas kasus ekshibisionisme ini juga sebelumnya sudah dikonfirmasi Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Febri Isman Jaya.

 

Pelecehan seksual ini terjadi pada Selasa (13/9/2022) pagi, saat korban sedang menyiram tanaman.

 

Berdasarkan rekaman CCTV, awalnya pelaku yang mengenakan kaus dan celana panjang hitam datang dan bersembunyi dari balik mobil dan memantau aktivitas korban yang sedang menyiram tanaman.

 

Melihat korban, pelaku kemudian mengeluarkan alat vital dari celananya. Menyadari kehadiran pelaku eksibisionis tersebut, korban kemudian meminta pelaku pergi dari hadapannya.

 

Usai diusir korban, pelaku bukannya pergi akan tetapi tertawa dengan berjalan santai sambil memasukkan alat vital ke dalam celana.

 

Karena perasaan takut dan resah, korban lalu mengadu ke majikannya untuk selanjutnya diteruskan ke petugas keamanan dan pengurus RT setempat.

 

Tidak berapa lama kemudian, Unit Reskrim Polsek Tanjung Priok yang dipimpin Panit IPDA Rudolf Marpaung langsung mengamankan pelaku dan dibawa ke Unit PPA Polres Metro Jakarta Utara.

Continue Reading

BERITA POPULER

Breaking News